Selasa, 28 Maret 2023

TANGGAL ATAU HARI Pakpak


Sebelum masuknya ilmu pendidikan atau biasa disebut shine , tentunya manusia jaman dahulu tetauj jp memiliki ide untuk mempermudah kegiatannya sehari hari . Baik dalam bekerja dan menentukan suatu masa atau waktu dan penanggalan hingga kurun waktu yang sangat lama . Mulai dari jam ,hari, bulan , tahun dan abad dan masih barjak lagi . 


‌Namun kali ini kita akan bahas proses atau cara yang dilakukan oleh suku pedalaman di daerah Pakpak di Sumatra Utara. Penanggaalan atau kalender Pakpak pada mulanya dihitung dari lobang sebuah tempurung yang sebelumnya telah dilobangi sebanyak 30 lobang. Setiap lobang diisi dengan seutas tali yang kemudian setiap hari tali tersebut ditarik sampai kemudian semua lobang kosong, dan seterusnya diisi kembali. Setiap penarikan tali dilakukan penyebutan harinya . Jika secara umum kita mengetahui penanggalen dinyatakan dengan angka, maka pada masyarakat Pakpak hanya dikenal nama hari saja, Saesuai dengan jumlah lobang sebanyak 30 maka hari dalam Pakpak terdiri dari 30 hari saja. 


 Berikut nama nama hari pada suku Pakpak antara lain : 


1. Adintia,2

 Suma, 3. Anggara, 4. Budaha, 5. Beraspati, 6. Cikerra, 7. Belah naik, 8. Adintia naik, 9

 Suma sibah, 10. Anggara sepuluh, 11. Budaha mengadep, 12. Beraspati tangkep, 13. Cikerra purnama, 14. Belah Purnama Tula, 15. Suma Teppik, 16. Anggara Kolom, 17. Budaha Kolom, 18. Beraspati Kolom, 19. Cikerra duapuluh, 20. Bellah Turun, 21. Adintia Anggara, 22. Sumani mate, 23. Anggara Bulubana, 24. Budaha selpu/meddem, 25. Beraspati Gok, 26. Samisara bulan mate, 27. Dalan bulan dan kurung. 28. Budaha selpu juga sering dinamakan budaha meddem, 29. sedangkan cikerra ada pula yang menyebut dengan cukerra. 30. Samisara bulan mate sering juga disebut dengan Samisara mate bulan.


Dari keseluruhan hari tersebut memiliki banyak arti secara tersendiri , biasanya dalam kebiasaan orang Pakpak hari tersebut akan dibagi lagi menjadi berapa bagian . Misalnya kalau ada yang ingin melakukan hajatan , misalnya pesta, membangun rumah, musim bercocok tanam , atau kegiatan baik lainnya . maka penanggalan akan dilihat kembali , dicocokkan dengan nama hari tersebut , dan hal ini juga sama dengan primbon pada Jawa atau di daerah Toba pada umumnya . Kepercayaan masyarakat adat Pakpak tetap menjaga warisan leluhur ini , dengan penuh harapan hajat yang akan dilaksanakan tidak mendapat halangan buruk . kendati demikian tidak sedikit pula yang sudah melanggarnya , seiring kemajuan teknologi. 


2. JAM


Dalam ukuran waktu secara internasional dan nasional diketahui bahwa satu hari dan satu malam terdiri dari masing-masing 12 jam. Dengan demikian satu hari satu malam adalah 24 jam. Sedangkan pada masyarakat Pakpak dalam satu hari dikenal (5) ketika dan satu malam juga (5) ketika. Satu hari satu malam adalah (10) ketika dimana jarak antara satu ketika dengan ketika lain adalah masing-masing 2 jam 14 menit. Ketika tersebut dinamai sebagai berikut : 

1. Keke Matawari. Terbit matahari , 

2. Rungrung gelang-gelang 

 3. Ceger Ari. 

4. Cibon = sore hari 

 5. Kandang Kerbo. Masa memasukkan kerbo ke kandang 

6. Tangkep Koden , merupakan habis jam masak dan Periuk sudah disimpan. 

 7. Sipeddem anak-anak , jam waktu anak anak tidur 

 8. Tengah berngin , atau biasa dibilang jam larut malam 

9. Takuak manuk sekali , kebiasaan ayam berkokok tengah malam 

10. Takuak menjejeri. Ayam berkokok dipagi hari 


Penyebutan ini cenderung diambil dari masa satu kegiatan atau peristiwa yang dilakukan sehari-hari, dan keadaan atau posisi mata hari. Pagi misalnya disebut keke matawari atau ketika matahari mulai bangkit dan terlihat, Kandang kerbo dimaksudkan masa untuk mengkandangkan kerbo, kemudian Tangkep koden dimaksudkan masa setelah selesai memasak nasi sehingga periuk sudah dicuci atau dibersihkan dan dibalikkan, atau sipeddem anak-anak dimana waktu ini dinamai sebagai masa anak-anak tidur. Demikian juga nama-nama lainya.


Demikian nama hari dan jam yang sering dilakukan masyarakat adat Pakpak yang terletak di Sumatera Utara dan Aceh . Semoga dengan mengetahui kebiasaan orang Pakpak kita lebih memahami Pakpak yang sebenarnya . Dan juga sebagai pembelajaran bagi generasi penerus suku Pakpak . Apa bila terdapat kesalahan , mohon diberi masukan dan saran dengan cara komen pada video ini . Dan jangan lupa jaga selalu kesehatan dan selamat menjalankan aktivitas, jangan lupa subscriber,like koman dan bagikan video ini . Kerna itu gratis agar lebih mendukung channel ini. 

Tonton juga videonya langsung : 



Lias ate 

Njuah njuah banya Karina . 

Minggu, 26 Maret 2023

Penanggalan dan perhitungan hari hari suku pakpak


Sebelum masuknya ilmu pengetahuan atau biasa disebut shine , tentunya manusia jaman dahulu tetap memiliki ide untuk mempermudah kegiatannya sehari hari . Baik dalam bekerja dan menentukan suatu masa atau waktu dan penanggalan hingga kurun waktu yang sangat lama . Mulai dari jam ,hari, bulan , tahun dan abad dan masih banyak lagi . 


Namun kali ini kita akan bahas proses atau cara yang dilakukan oleh suku pedalaman pulau Sumatra . suku Pakpak yang terletak di daerah kabupaten Pakpak Bharat , Dairi , Samosir , Humbahas dan Aceh Singkil . Penanggaalan atau kalender Pakpak pada mulanya dihitung dari lobang sebuah tempurung yang sebelumnya telah dilobangi sebanyak 30 lobang. Setiap lobang diisi dengan seutas tali yang kemudian setiap hari tali tersebut ditarik sampai kemudian semua lobang kosong, dan seterusnya diisi kembali. Setiap penarikan tali dilakukan penyebutan harinya . Jika secara umum kita mengetahui penanggalen dinyatakan dengan angka, maka pada masyarakat Pakpak hanya dikenal nama hari saja, Sesuai dengan jumlah lobang sebanyak 30 maka hari dalam Pakpak terdiri dari 30 hari saja. 


 Berikut nama nama hari pada suku Pakpak antara lain : 


1. Adintia,2

 Suma, 3. Anggara, 4. Budaha, 5. Beraspati, 6. Cikerra, 7. Belah naik, 8. Adintia naik, 9

 Suma sibah, 10. Anggara sepuluh, 11. Budaha mengadep, 12. Beraspati tangkep, 13. Cikerra purnama, 14. Belah Purnama Tula, 15. Suma Teppik, 16. Anggara Kolom, 17. Budaha Kolom, 18. Beraspati Kolom, 19. Cikerra duapuluh, 20. Bel lah Turun, 21. Adintia Anggara, 22. Sumani ma te, 23. Anggara Bulubana, 24. Budaha selpu, atau budaha mddem, 25. Beraspati Gok, 26. Samisara bulan ma te, 27. Dalan bulan kurung. 28. Budaha selpu = budaha meddem, 29. sedangkan cikerra = cukerra. 30. Samisara bulan ma te = Samisara ma te bulan.


Dari keseluruhan hari tersebut memiliki banyak arti secara tersendiri , biasanya dalam kebiasaan orang Pakpak hari tersebut akan dibagi lagi menjadi berapa bagian , Misalnya kalau ada yang ingin melakukan hajatan , pesta, membangun rumah, musim bercocok tanam , atau kegiatan baik lainnya . maka penanggalan akan dilihat kembali , dicocokkan dengan nama hari tersebut , dan hal ini juga sama dengan primbon pada Jawa atau di daerah Toba pada umumnya . Kepercayaan masyarakat adat Pakpak tetap menjaga warisan leluhur ini , dengan penuh harapan hajat yang akan dilaksanakan tidak mendapat halangan buruk . kendati demikian tidak sedikit pula yang sudah melanggarnya , seiring kemajuan teknologi. 


selanjutnya kita akan membahas tentang bagaimana masyarakat adat Pakpak menentukan masa waktu dalam kehidupan sehari harinya . 


Dalam ukuran waktu secara internasional dan nasional diketahui bahwa satu hari dan satu malam terdiri dari masing-masing 12 jam. Dengan demikian satu hari satu malam adalah 24 jam. Sedangkan pada masyarakat Pakpak dalam satu hari dikenal (5) ketika dan satu malam juga (5) ketika. Satu hari satu malam adalah (10) ketika dimana jarak antara satu ketika dengan ketika lain adalah masing-masing 2 jam 14 menit. Ketika tersebut dinamai sebagai berikut : 

1. Keke Matawari. Terbit matahari , 

2. Rungrung gelang-gelang, mungkin ini bisa disebut waktu pagi atau waktu duha . 

 3. Ceger Ari , matahari mulai panas  

4. Cibon = sore hari 

 5. Kandang Kerbo. Masa memasukkan kerbo ke kandang 

6. Tangkep Koden , merupakan habis jam masak dan Periuk sudah disimpan. 

 7. Sipeddem anak-anak , jam waktu anak anak tidur 

 8. Tengah berngin , atau biasa dibilang jam larut malam 

9. Takuak manuk sekali , kebiasaan ayam berkokok tengah malam 

10. Takuak menjejeri. Ayam berkokok dipagi hari 


Penyebutan ini cenderung diambil dari masa satu kegiatan atau peristiwa yang dilakukan sehari-hari, dan keadaan atau posisi mata hari. Pagi misalnya disebut keke matawari atau ketika matahari mulai bangkit dan terlihat, Kandang kerbo dimaksudkan masa untuk mengkandangkan kerbo, kemudian Tangkep koden dimaksudkan masa setelah selesai memasak nasi sehingga periuk sudah dicuci atau dibersihkan dan dibalikkan, atau sipeddem anak-anak dimana waktu ini dinamai sebagai masa anak-anak tidur. juga nama-nama lainya.


Demikian nama hari dan jam yang sering dilakukan masyarakat adat Pakpak yang terletak di Sumatera Utara dan Aceh . Semoga dengan mengetahui kebiasaan orang Pakpak kita lebih memahami Pakpak yang sebenarnya . Dan juga sebagai pembelajaran bagi generasi penerus suku Pakpak . Apa bila terdapat kesalahan , mohon diberi masukan dan saran dengan cara komen pada video ini . Dan jangan lupa jaga selalu kesehatan dan selamat menjalankan aktivitas, jangan lupa subscribe,like komen dan bagikan video ini . Kerna itu gratis agar lebih mendukung channel ini. 


Lias a te 

Njuah njuah banta Karina . 

Selasa, 21 Maret 2023

Peman Mbalu

 Peman Mbalu











15 Makna logo yang terkandung di Pakpak bharat

 


Pak pak Bharat berdiri sejak 28 Juli 2003 dan merupakan hasil dari pemekaran Kabupaten Dairi . pejabat sementara yang ditunjuk ialah Drs Tigor Solin . Berada di provinsi Sumatera Utara , Barat wilayah Utara berbatasan dengan kabupaten Dairi, timur berbatasan dengan kabupaten Samosir, selatan berbatasan dengan Tapanuli tengah dan Humbang Hasundutan dan barat berbatasan dengan Pemko Subulussalam dan Aceh Singkil . Pakpak Bharat terdiri dari 8 kecamatan dan 52 desa . 


Setiap negara , provinsi , kota madya dan kabupaten tentu memiliki ciri tersendiri yang tertuang didalam suatu logo . Unsur sketsa atau gambaran yang mewakili dari sebuah nama , baik nama perusahaan, lembaga atau Kelompok.  


Pada kesempatan ini kami tim histori Pakpak TV , memberi tahu kita semua arti logo yang sering kita lihat di kabupaten Pakpak Bharat yang menjadi simbol kabupaten Pakpak Bharat . Berikut pengulasannya : 

 

1. Bintang lima menggambarkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang dianut sehingga walaupun berbeda agama dan kepercayaan namun tetap rukun dan damai serta saling hormat-menghormati.

Menggambarkan cita-cita dan harapan, bahwa masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat mempunyai visi dan misi yang tinggi melalui pemanfaatan segala sumber daya yang dimiliki.

2. Daun Kemenyan 28 helai menggambarkan tanah Pakpak Bharat sebagai lahan yang subur dan kemenyan adalah salah satu komoditas andalan yang ditekuni sejak dari nenek moyang dan dikembangkan sampai saat ini sebagai sumber pendapatan masyarakat.

Daun kemenyan 28 helai, menggambarkan bahwa Kabupaten Pakpak Bharat diresmikan pada tanggal 28 dan juga sekaligus Pelantikan Bupati yang pertama di Kabupaten Pakpak Bharat.

3. Motto (semboyan) Kabupaten Pakpak Bharat dalam Bahasa Pakpak disebut Bage ate rejeki bage tennah sodip mengandung makna bahwa masyarakat dalam setiap melakukan pekerjaan mempunyai keselarasan antara hati, jiwa, pikiran dengan perbuatan.

4. Bukit Barisan melambangkan keindahan panorama dan kekayaan yang terkandung di dalamnya serta menunjukkan bahwa wilayah geografi Kabupaten Pakpak Bharat berada di kaki bukit barisan (Delleng Sibarteng)

5. Segi lima di dalamnya rumah adat menggambarkan bahwa Suku Pakpak terdiri dari 5 Suak yaitu: Suak Simsim, Suak Keppas, Suak Pegagan, Suak Boang, dan Suak Kelasen yang di dalamnya ada Rumah Adat Pakpak sebagai tempat berlindung dan bermusyawarah.

Menggambarkan aktualisasi dari Sulang Silima (Perisang-isang, Perekur-ekur, Pertulan Tengah, Berru dan Kula-kula), yang merupakan sumber hukum adat budaya etnis Pakpak.

6. Rumah adat Pakpak sebagai tempat bermusyawarah (runggu) untuk merumuskan segala sesuatu yang akan dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pakpak.

7. Mejan menggambarkan bahwa suku Pakpak mempunyai kultur budaya yang tinggi dimana manusia mampu menunggangi Gajah yang berarti dekat dan menyatu dengan alam sekitar.

8. Rabi Munduk pisau ini biasanya digunakan perempuan Pakpak bila bepergian ke ladang dan digunakan sebagai alat untuk mengolah lahan dan juga berfungsi sebagai alat pelindung.

9. Melmellen di dalamnya bertuliskan Kabupaten Pakpak Bharat menggambarkan suatu bangunan dimana Melmellen berfungsi sebagai pondasi pertahanan agar tiang-tiang bangunan dapat menyatu dan berdiri kokoh, dan dapat juga diartikan dengan lahirnya Kabupaten Pakpak Bharat diharapkan dapat menyatu padukan segala potensi yang dimiliki untuk meraih kemakmuran dan keadilan.

10. Daun Gambir 7 helai menggambarkan bahwa tanaman gambir adalah produk spesifik unggulan dari Kabupaten Pakpak Bharat yang tidak dimiliki oleh daerah lain, dengan jumlah helai daun sebanyak 7 yang berarti bahwa Kabupaten Pakpak Bharat diresmikan pada Bulan 7 (Juli).

11. Bendera Pakpak yang tergambar dengan 3 warna (Merah, Putih dan Hitam) dan menunjukkan bahwa masyarakat Pakpak mempunyai keberanian membela kebenaran, kesucian dan kebersihan hati serta tidak mudah goyah dalam menghadapi tantangan.

12. Borgot sebuah rantai emas yang diartikan bahwa masyarakat Pakpak mempunyai jalinan tali yang kokoh dimana kekuatan yang satu adalah juga kekuatan bagi yang lain atau dengan arti lain “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

13. Koden Loyang (periuk) berbentuk jantung menggambarkan semboyan filsafat etnis Pakpak yang berasal dari keturunan yang sama. Kumarnaken Makne Lot Koden Mbelgah Ngo Asa Kita Makne Sada Mpanganan, Kumarnaken Bages Makne Mbelgah Ngo Asa Kita Makne Sada Rumah, yang artinya: karena tidak ada lagi periuk yang besar maka kita tidak makan bersama, dan karena besarnya rumah yang terbatas maka kita berpisah tempat tinggal.

14. Lapihen berupa buku bertuliskan aksara Pakpak yang berisi berbagai aturan hukum dan norma-norma sebagai acuan untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam kehidupan masyarakat.

15. Rempu Riar pisau ini biasanya digunakan kaum lelaki Pakpak bila bepergian ketempat lain dan digunakan sebagai alat untuk mencari nafkah juga berfungsi sebagai alat pelindung.


Demikian paparan kami tentang logo kabupaten Pakpak Bharat, agar kita lebih tau dengan Pakpak dan menerapkan arti simbol Pakpak Bharat dalam kehidupan kita . 






Jumat, 17 Maret 2023

Pakpak kanibal . Makan orang .

Benarkah.? Kok bisa.? Bagaimana melakukannya.? Kalau mendengar suku pakpak, pikiran orang awam mungkin langsung tertuju dengan kepercayaan bahwa suku pakpak pemakan manusia. Kepercayaan ini memang sempat menyebar ke daerah lain, sehingga jika mendengar suku pakpak ada perasaan ngeri atau takut.

Apakah anda percaya ini..?

Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan suku pakpak. Semenjak saya lahir belum pernah melihat saudara-saudara saya memakan daging manusia. Namun mengapa mitos ini sampai menyebar..?

Kalau orang yang tau banyak tentang budaya pakpak anda tanya apakah ini benar, maka jawabnya adalah tidak benar, hanya sebatas mitos. Yang mengatakan orang pakpak kanibal hanya orang yang buta tentang budaya pakpak, dan orang yang “bodoh” karena langsung mempercayai mitos tanpa menganalisis kebenaranny

a. Suku pakpak mendiami wilayah di propinsi sumatera utara. Wilayahnya berderet di sekitar pegunungan bukit barisan sehingga berladang (mertembak), berburu, mengolah kekayaan hasil hutan, beternak dan berdagang merupakan sumber kehidupan yang cocok. Sumber daya alam yang kaya menjadikan suku pakpak merasa damai mendiami wilayah ini.

Menurut sejarah, perdagangan dilakukan sampai ke daerah lain. Kota Barus merupakan jalur perdagangan yang sangat terkenal saat itu. Para pedagang dari eropa dan arab membeli produk-produk di tempat ini. Produk yang sangat unik, mahal dan langka adalah getah kemenyan yang sampai saat ini masih di budi dayakan oleh masyarakat.

Dari sini bisa di analisis, adakah waktu orang pakpak memakan daging saudaranya sendri karena kelaparan..? Tidakkah cukup kekayaan yang ada membuat hidup mereka sejahtera, kenyang dan damai..?

Saya pernah menjumpai seorang kakek berumur 80 tahun dan menananyakan tentang ini. Beliau Bermarga Tumangger satu marga asli suku pakpak. Beliau merupakan tokoh adat dan budaya yang di akui di daerah tersebut. Menurut beliau, pernah terjadi pertikaian akibat kedatangan perusuh yang ingin menguasai kekayaan suku pakpak. Hingga mereka melakukan perlawanan dan terjadi pertumpahan darah.

Satu diantara pejuang suku yang dijuluki Si Jago Moccak memiliki keterampilan Beladiri Moccak (Moccak = Beladiri Suku Pakpak yang mirip Silat) dan keberanian dan emosi yang tinggi berhasil membunuh musuh dan mengambil jantungnya dan langsung menggigit jantung tersebut (bukan ditelan). Tindakan ini membuat musuh lainnya terkejut dan lari kocar-kacir dalam ketakutan.

Dipihak musuh, ternyata kejadian ini menjadi buah bibir, yang ahirnya menyebar dari mulut kelmulut. Jantung yang malang ini lah menjadi awal mitos orang Pakpak adalah kanibal, pemakan daging manuasia. Padahal, sebenarnya kejadian yang kebetulan tersebut hanya luapan emosi Si Jago Moccak akibat ulah perusuh yang ingin mengusik ketenangan suku pakpak.


Tonton juga video kami 


Pakpak kanibal 



Legenda Eluh Beru tinabuna

 

Legenda Eluh Beru tinabunan


merupakan cerita rakyat pakpak yang turun temurun yang banyak diceritakan dari dahulu hingga sekarang . Namun banyak versi yang kita temukan , hampir disetiap masyarakat memiliki cerita yang sedikit berbeda , namun pada akhirnya tetap pada peristiwa kawin paksa .

Tanpa banyak basa basi , namun sebelum kita lanjutkan , jangan lupa subscribe, like dan command serta bagikan video ini , agar kita lebih semangat dalam mengupas sejarah Pakpak .

kita kisahkan cerita rayat ini. Dicertakan dalam oleh orang yang berdomisili dekat dari daerah tesebut , yaitu sahabat saya dahulu pak jokerta tumangger , pemuda dari ulu merah , tidak jauh dari  Eluh Beru tinambunen .  Eluh Beru Tinambunen berada diatas bukit tertinggi di pakpak Bharat yaitu delleng simpoon , jarak tempuh ke delleng simpoon dari Pakpak Bharat salak, sekitar sebelas kilo meter atau sekitar 1 jam perjalanan . Dari Medan sekitar 200 km , melalui sidikalang , kabupaten Dairi .

Awal kisah diceritakan oleh sahabat saya , ada sebuah perjudian dahulu berada di daerah kelasen salah satu suak Pakpak , terletak di daerah kabupaten Humbang Hasundutan . Dimana perjudian itu merupakan perjudian yang sangat besar . Dimana dari seluruh penjuru daerah datang kesana , dengan berharap kemenangan yang besar .

Disisi lain ada seorang gadis yang sangat cantik anak dari marga tinambunen yang bernama putri Mbettar daroh . Perempuan tersebut sangat merdu suaranya , dan sangat cantik orangnya . Sampai ketika siapa pun melihat perempuan tersebut pasti jatuh cinta . Jelas perempuan tersebut menjadi rebutan pemuda pemuda didaerah itu.

Kembali ke tempat perjudian. seluruh pemain sudah mulai panas , dan satu persatu pun pemain kalah dan hanya tersisa beberapa orang pemain . Dikisahkan bahwa pemain terakhir ialah antara marga Berutu dan marga tinambunen. Marga Berutu ini sangat kaya ,  dan bertambah kaya pula dia lagi semenjak perjudian itu, Hingga akhirnya marga tinambunen bapak dari putri pun kalah dan menyisakan hutang yang sangat banyak terhadap marga Berutu tersebut .

Namun hutang inilah yang menjadi sumber masalah , sehingga setiap Minggu si Berutu pun selalu datang menjumpai marga tinambunen tersebut ,  Tampa diduga ternyata putri Mbettar daroh itu ialah anak dari marga tinambunen tersebut . seketika mata siberutu pun tidak berkedip ketika melihat pesona putri marga tinambunen.

Namun demikian hutang tetaplah menjadi hutang , sehingga pada suatu saat kesepakatan pun terjadi . dikarenakan tidak bisa bayar hutang , ahirnya putri dari marga tinambunen pun diberikan sebagai bayar hutang judi mereka . Sungguh nasip yang sangat sedih , yang dialami putri marga tinambunen tersebut. Si tinambunen pun membujuk putri semata wayangnya untuk menikah dengan si Berutu.

Tapi putri dari tinambunen tidak mau , hingga dia pun menangis setiap hari . Karena tidak mau dinikahkan dengan orang yang dia tidak cintai , apalagi itu merupakan bayar dari hutang judi bapaknya .

Si Berutu pun tidak habis akal , diapun membayar orang untuk menggotong si putri tersebut dengan cara mencongkel papan tempat tidurnya , dengan jampi jampi si putri pun tidak bangun , seketika dia bangun ditempat peristirahatan dikaki bukit simpoon , siputri pun terbangun dan menangis sejadi jadinya , hingga bekas jatuhan air matanya pun terbentuk sebuah genangan air berbentuk sumur kecil .

Perjalanan tetap diteruskan sehingga sampailah merek di ulu merah rumah dari marga Berutu tersebut.  Pernikahan pun terjadi hingga akhirnya putri pun mengandung anak pertamanya .  malang nasip mereka ketika melahirkan anak dan ibunya putri tidak selamat dan meninggal dunia .

Sampailah kabar ini kepada bapak si putri marga tinambunen . Dia pun menangis dan menyesal telah menyetujui pernikahan mereka akibat dari terlilit hutang judi .

Begitulah Ahir dari cerita Eluh Beru tinambunen putri mbettar daroh . Sampai sekarang air itu tetap ada , tidak pernah habis dan tidak tau darimana mata air yang ada pada kubukan tersebut . Konon air tersebut sangat disakralkan warga sekitar karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit .

Pesan yang kita ambil dari cerita ini ialah , jangan pernah bermain judi , jangan menikahkan putri kita kepada orang yang dia tidak cintai .


Tonton juga pada video kami . 








Sabtu, 11 Maret 2023

Naga Jambe Ditanah Pakpak

 

Diawal kisah diceritakan , bahwa naga Jambe ialah seorang saudagar pedagang yang datang dari India , berniaga ke tanah Baros Pelabuhan kecil Barus, yang terletak di pantai barat laut provinsi Sumatera Utara menghadap ke Samudra Hindia yang luas. 


Naga Jambe ialah sebutan setelah di Pakpak , namun nama aslinya tidak kita ketahui masih dalam pencarian . Naga Jambe memulai perjalanannya dari Baros menuju Banua harhar , yang sekarang jambu Rea , kecamatan sempat rube Pakpak Bharat,  didomisili oleh marga Padang . 


Awal kisah naga Jambe mulai berniaga dengan memakai jasa marga Naibaho sebagai penerjemah bahasanya , mereka bertemu dibanua harhar , karena kedekatan mereka dengan marga Naibaho , sering Naibaho menyebut bahwa naga Jambe adalah anaknya . 


Setelah sekian tahun berniaga didaerah Baros dan pajak Banua harhar ( jambu Rea ) , sampailah mereka ke kampung tungtung batu kecamatan Silima pungga pungga kabupaten Dairi . 


Disinilah perjalanan cinta naga Jambe , sehingga naga Jambe pun jatuh hati kepada anak marga saraan , setelah naga Jambe menaruh hati kepada Beru saraan , mereka pun mantap untuk melanjutkan pernikahan , lalu pernikahan pun terjadi , dengan adat mereka pada jaman itu . 


Setelah pernikahan terjadi merekapun kembali ke Banua harhar , disana mereka merencanakan bermukim di sicike cike , karena memang letak geografis Sicike-cike sangatlah dekat dengan Banua harhar . Agar naga Jambe lebih mudah berniaga ke Banua harhar . Dari Pernikahan naga Jambe dan Beru saraan , lahirlah anak mereka Ujung , Angkat, Bintang dan satu Putri Bernama NANTAMPUK Emas . 

Setelah beberapa pulu tahun tinggal disicike cike , putra dan putri naga Jambe sudah mulai besar , malang tak dapat diduga untung tak dapat diraih , naga Jambe pun kembali menikah dengan putri raja Padang dari Banua harhar , pada masa itu berapa jauh jarak perjalanan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki . Sehingga naga Jambe pun sudah jarang pulang kesicike cike . Setelah menikah Dengan Beru Padang mereka pun tinggal di Banua har har . 


Dari pernikahan naga Jambe dan Beru Padang , lahirlah anak mereka yang bernama : Capah , Kudadiri, Gajah Manik dan terakhir ialah sinamo . Namun naga Jambe tetap mehasiakan kalau Naga Jambe bapak dari Sipitu marga , ternyata punya istri selain Beru Padang .


Setelah dia mengumpulkan anaknya dan istrinya Beru Padang , naga Jambe pun berkata " anak di kampung Sicike-cike sana ada kluarga kalian , ada Abang dan kakak kalian , pergilah kesana , mendengar itu , Beru Padang istri naga Jambe pun kaget , namun istri kedua naga Jambe ini merupakan istri yang kuat dan tegar , walau demikian adanya , dia tetap mendukung kepada anaknya agar menjumpai keluarganya anak dari istri pertama. 



Maka dikemudian hari , istri naga Jambe pun mempersiapkan mereka agar berangkat menuju Sicike-cike, sementara itu berru Padang mempersiapkan oleh oleh untuk diberikan kepada saudara dan ibu mereka . 

Namun ditengah lelahnya perjalanan tersebut dan jauhnya jarak yang mereka tempuh, ke empat anak dari berru Padang itu pun mulai lelah , haus dan lapar , sambing mereka beristirahat, ada salah satu dari mereka penasaran dan ingin membuka bingkisan tersebut , namun sentak semua sepakat untuk membukanya , langkah terkejutnya mereka ketika melihat yang mereka bawa adalah makanan yang begitu lebat , sambil terheran mereka pun berkata , betapa mulianya ibu kita ini , walau hatinya sedang terluka , dia tetap sayang kepada orang yang akan kita jumpai ini kata mereka sambil membuka makanan tersebut satu persatu , namun dengan perasaan lapar mereka , begitu juga makanan yang sangat lejat ada didepan mereka , mereka pun memakan bekal tersebut , sampai habis , hingga meninggalkan tulang belulang saja . Sambil berkata mereka bilang " sudah tutup saja kembali bekal itu , lagian kita pun blm tau siapa yang mau kita jumpai , kata salah seorang dari mereka , lalu mereka pun melanjutkan perjalanan kembali , sesampainya di Sicike-cike mereka pun bertemu dengan berru saraan dan ke empat anak dan putrinya . Mereka pun memperkenalkan diri satu persatu , lantas mendengar pernyataan mereka , berru saraan pun sedih namun gembira , namun tanpa mereka sadari bakul makanan tersebut pun tetap diberikan kepada istri naga Jambe Beru saraan , dan betapa terkejutnya dia , bahwa ternyata yang dia lihat hanya tulang belulang makanan sisa dari makanan yang mereka makan tadi . Seketika neru saraan pun bersedih , dan diapun berdoa kepada sang pencipta alam semesta ini " oh le empung simende basa , kasa NGO bagen pengakapen Ken , bgi mo lejjana aku kipebelgah dukak en Karina , Keppe bagen mo roh bangku " Beru saraan pun berdoa sampai malam , tapi hal yg tidak disangkapun terjadi , dari air mata Beru saraan pun makin membesar dan membuat seluruh kampung banjir , hujan pun turun siang dan malam , dan ke empat anak itu pun dipaksa Beru saraan pulang , hujan semakin lebat dan tidak kunjung berhenti hingga 7 hari 7 malam lamanya , hingga banjir pun datang dan semua seisi kampung Sicike-cike pun mulai mengungsi menjauh dari kampung tersebut . Banjir pun terjadi hingga sidikalang dan parongil . Dan Beru saraan pun menghilang bersamaan dengan terbentuknya pea / danau Sicike-cike, danau di atas perbukitan . 


Mereka pun terus berjalan , pada akhirnya mereka pun sampai di Pasar lama , disinilah awal mula kota sidikalang . 


Naga Jambe part III



Naga ajambe part II



Naga Jambe part I