Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label legenda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Maret 2023

TANGGAL ATAU HARI Pakpak


Sebelum masuknya ilmu pendidikan atau biasa disebut shine , tentunya manusia jaman dahulu tetauj jp memiliki ide untuk mempermudah kegiatannya sehari hari . Baik dalam bekerja dan menentukan suatu masa atau waktu dan penanggalan hingga kurun waktu yang sangat lama . Mulai dari jam ,hari, bulan , tahun dan abad dan masih barjak lagi . 


‌Namun kali ini kita akan bahas proses atau cara yang dilakukan oleh suku pedalaman di daerah Pakpak di Sumatra Utara. Penanggaalan atau kalender Pakpak pada mulanya dihitung dari lobang sebuah tempurung yang sebelumnya telah dilobangi sebanyak 30 lobang. Setiap lobang diisi dengan seutas tali yang kemudian setiap hari tali tersebut ditarik sampai kemudian semua lobang kosong, dan seterusnya diisi kembali. Setiap penarikan tali dilakukan penyebutan harinya . Jika secara umum kita mengetahui penanggalen dinyatakan dengan angka, maka pada masyarakat Pakpak hanya dikenal nama hari saja, Saesuai dengan jumlah lobang sebanyak 30 maka hari dalam Pakpak terdiri dari 30 hari saja. 


 Berikut nama nama hari pada suku Pakpak antara lain : 


1. Adintia,2

 Suma, 3. Anggara, 4. Budaha, 5. Beraspati, 6. Cikerra, 7. Belah naik, 8. Adintia naik, 9

 Suma sibah, 10. Anggara sepuluh, 11. Budaha mengadep, 12. Beraspati tangkep, 13. Cikerra purnama, 14. Belah Purnama Tula, 15. Suma Teppik, 16. Anggara Kolom, 17. Budaha Kolom, 18. Beraspati Kolom, 19. Cikerra duapuluh, 20. Bellah Turun, 21. Adintia Anggara, 22. Sumani mate, 23. Anggara Bulubana, 24. Budaha selpu/meddem, 25. Beraspati Gok, 26. Samisara bulan mate, 27. Dalan bulan dan kurung. 28. Budaha selpu juga sering dinamakan budaha meddem, 29. sedangkan cikerra ada pula yang menyebut dengan cukerra. 30. Samisara bulan mate sering juga disebut dengan Samisara mate bulan.


Dari keseluruhan hari tersebut memiliki banyak arti secara tersendiri , biasanya dalam kebiasaan orang Pakpak hari tersebut akan dibagi lagi menjadi berapa bagian . Misalnya kalau ada yang ingin melakukan hajatan , misalnya pesta, membangun rumah, musim bercocok tanam , atau kegiatan baik lainnya . maka penanggalan akan dilihat kembali , dicocokkan dengan nama hari tersebut , dan hal ini juga sama dengan primbon pada Jawa atau di daerah Toba pada umumnya . Kepercayaan masyarakat adat Pakpak tetap menjaga warisan leluhur ini , dengan penuh harapan hajat yang akan dilaksanakan tidak mendapat halangan buruk . kendati demikian tidak sedikit pula yang sudah melanggarnya , seiring kemajuan teknologi. 


2. JAM


Dalam ukuran waktu secara internasional dan nasional diketahui bahwa satu hari dan satu malam terdiri dari masing-masing 12 jam. Dengan demikian satu hari satu malam adalah 24 jam. Sedangkan pada masyarakat Pakpak dalam satu hari dikenal (5) ketika dan satu malam juga (5) ketika. Satu hari satu malam adalah (10) ketika dimana jarak antara satu ketika dengan ketika lain adalah masing-masing 2 jam 14 menit. Ketika tersebut dinamai sebagai berikut : 

1. Keke Matawari. Terbit matahari , 

2. Rungrung gelang-gelang 

 3. Ceger Ari. 

4. Cibon = sore hari 

 5. Kandang Kerbo. Masa memasukkan kerbo ke kandang 

6. Tangkep Koden , merupakan habis jam masak dan Periuk sudah disimpan. 

 7. Sipeddem anak-anak , jam waktu anak anak tidur 

 8. Tengah berngin , atau biasa dibilang jam larut malam 

9. Takuak manuk sekali , kebiasaan ayam berkokok tengah malam 

10. Takuak menjejeri. Ayam berkokok dipagi hari 


Penyebutan ini cenderung diambil dari masa satu kegiatan atau peristiwa yang dilakukan sehari-hari, dan keadaan atau posisi mata hari. Pagi misalnya disebut keke matawari atau ketika matahari mulai bangkit dan terlihat, Kandang kerbo dimaksudkan masa untuk mengkandangkan kerbo, kemudian Tangkep koden dimaksudkan masa setelah selesai memasak nasi sehingga periuk sudah dicuci atau dibersihkan dan dibalikkan, atau sipeddem anak-anak dimana waktu ini dinamai sebagai masa anak-anak tidur. Demikian juga nama-nama lainya.


Demikian nama hari dan jam yang sering dilakukan masyarakat adat Pakpak yang terletak di Sumatera Utara dan Aceh . Semoga dengan mengetahui kebiasaan orang Pakpak kita lebih memahami Pakpak yang sebenarnya . Dan juga sebagai pembelajaran bagi generasi penerus suku Pakpak . Apa bila terdapat kesalahan , mohon diberi masukan dan saran dengan cara komen pada video ini . Dan jangan lupa jaga selalu kesehatan dan selamat menjalankan aktivitas, jangan lupa subscriber,like koman dan bagikan video ini . Kerna itu gratis agar lebih mendukung channel ini. 

Tonton juga videonya langsung : 



Lias ate 

Njuah njuah banya Karina . 

Jumat, 17 Maret 2023

Legenda Eluh Beru tinabuna

 

Legenda Eluh Beru tinabunan


merupakan cerita rakyat pakpak yang turun temurun yang banyak diceritakan dari dahulu hingga sekarang . Namun banyak versi yang kita temukan , hampir disetiap masyarakat memiliki cerita yang sedikit berbeda , namun pada akhirnya tetap pada peristiwa kawin paksa .

Tanpa banyak basa basi , namun sebelum kita lanjutkan , jangan lupa subscribe, like dan command serta bagikan video ini , agar kita lebih semangat dalam mengupas sejarah Pakpak .

kita kisahkan cerita rayat ini. Dicertakan dalam oleh orang yang berdomisili dekat dari daerah tesebut , yaitu sahabat saya dahulu pak jokerta tumangger , pemuda dari ulu merah , tidak jauh dari  Eluh Beru tinambunen .  Eluh Beru Tinambunen berada diatas bukit tertinggi di pakpak Bharat yaitu delleng simpoon , jarak tempuh ke delleng simpoon dari Pakpak Bharat salak, sekitar sebelas kilo meter atau sekitar 1 jam perjalanan . Dari Medan sekitar 200 km , melalui sidikalang , kabupaten Dairi .

Awal kisah diceritakan oleh sahabat saya , ada sebuah perjudian dahulu berada di daerah kelasen salah satu suak Pakpak , terletak di daerah kabupaten Humbang Hasundutan . Dimana perjudian itu merupakan perjudian yang sangat besar . Dimana dari seluruh penjuru daerah datang kesana , dengan berharap kemenangan yang besar .

Disisi lain ada seorang gadis yang sangat cantik anak dari marga tinambunen yang bernama putri Mbettar daroh . Perempuan tersebut sangat merdu suaranya , dan sangat cantik orangnya . Sampai ketika siapa pun melihat perempuan tersebut pasti jatuh cinta . Jelas perempuan tersebut menjadi rebutan pemuda pemuda didaerah itu.

Kembali ke tempat perjudian. seluruh pemain sudah mulai panas , dan satu persatu pun pemain kalah dan hanya tersisa beberapa orang pemain . Dikisahkan bahwa pemain terakhir ialah antara marga Berutu dan marga tinambunen. Marga Berutu ini sangat kaya ,  dan bertambah kaya pula dia lagi semenjak perjudian itu, Hingga akhirnya marga tinambunen bapak dari putri pun kalah dan menyisakan hutang yang sangat banyak terhadap marga Berutu tersebut .

Namun hutang inilah yang menjadi sumber masalah , sehingga setiap Minggu si Berutu pun selalu datang menjumpai marga tinambunen tersebut ,  Tampa diduga ternyata putri Mbettar daroh itu ialah anak dari marga tinambunen tersebut . seketika mata siberutu pun tidak berkedip ketika melihat pesona putri marga tinambunen.

Namun demikian hutang tetaplah menjadi hutang , sehingga pada suatu saat kesepakatan pun terjadi . dikarenakan tidak bisa bayar hutang , ahirnya putri dari marga tinambunen pun diberikan sebagai bayar hutang judi mereka . Sungguh nasip yang sangat sedih , yang dialami putri marga tinambunen tersebut. Si tinambunen pun membujuk putri semata wayangnya untuk menikah dengan si Berutu.

Tapi putri dari tinambunen tidak mau , hingga dia pun menangis setiap hari . Karena tidak mau dinikahkan dengan orang yang dia tidak cintai , apalagi itu merupakan bayar dari hutang judi bapaknya .

Si Berutu pun tidak habis akal , diapun membayar orang untuk menggotong si putri tersebut dengan cara mencongkel papan tempat tidurnya , dengan jampi jampi si putri pun tidak bangun , seketika dia bangun ditempat peristirahatan dikaki bukit simpoon , siputri pun terbangun dan menangis sejadi jadinya , hingga bekas jatuhan air matanya pun terbentuk sebuah genangan air berbentuk sumur kecil .

Perjalanan tetap diteruskan sehingga sampailah merek di ulu merah rumah dari marga Berutu tersebut.  Pernikahan pun terjadi hingga akhirnya putri pun mengandung anak pertamanya .  malang nasip mereka ketika melahirkan anak dan ibunya putri tidak selamat dan meninggal dunia .

Sampailah kabar ini kepada bapak si putri marga tinambunen . Dia pun menangis dan menyesal telah menyetujui pernikahan mereka akibat dari terlilit hutang judi .

Begitulah Ahir dari cerita Eluh Beru tinambunen putri mbettar daroh . Sampai sekarang air itu tetap ada , tidak pernah habis dan tidak tau darimana mata air yang ada pada kubukan tersebut . Konon air tersebut sangat disakralkan warga sekitar karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit .

Pesan yang kita ambil dari cerita ini ialah , jangan pernah bermain judi , jangan menikahkan putri kita kepada orang yang dia tidak cintai .


Tonton juga pada video kami .